Tadi pagi, aku tidak memasak, cuman panasin makanan buat bekal makan siang di kantor..
akhirnya jadi punya waktu nganggur2 sebentar.. kemudian aku baca Amsal 27.. karena hari ini tanggal 27 :p
ada ayat "panas hati murka dan kejam membara, tetapi siapa yang tahan terhadap cemburu?"
jadi diingatkan lagi, kalau cemburu bisa bikin hati panas.. dan siapa yang bisa menahan datangnya cemburu??
Siang ini aku bener2 di test tentang cemburu... hehehe... ini hasil kalo minta Tuhan berbicara.. hehe... langsung praktek !!
Memang datangnya cemburu gak bisa diduga, dan memang tidak diundang.. (emang siapa mau ngundang 'cemburu'.. hehe... bikin hati gak damai..)
Dan itulah yang terjadi.. hati jadi gak damai...
untung langsung inget ayat tersebut..jadi merasa kalo aku sebetulnya sudah di warning tadi pagi untuk kejadian siang ini..
Akhirnya aku putuskan untuk menerimanya dengan lapang dada..
dari pada kehilangan rasa damai... damai sejahtera itu barang mahal lo.. gak bisa dibeli dan dipaksain.. itu anugrah..
Cemburu memang datang tanpa diduga, tapi kita juga mengusirnya dari hidup kita sebelum dia menguasai hidup kita dan menghancurkan hidup kita.
Thank you God for the lesson today
Thursday, September 27, 2007
Friday, September 7, 2007
Komunikata
Dulu, beberapa tahun yang lalu, disebuah stasiun Televisi penah ada games, kalau gak salah namanya Komunikata...
cara maennya... 1 team 5 orang, orang pertama diperlihatkan sebuah kata, dan orang tersebut harus memperagakan kata2 tersebut ke orang berikutnya, dan orang ke 2 akan meneruskannya, hingga orang terakhir. Orang terakhir ini harus menebak kata apakah itu..
Permainan ini cukup lucu karena salah tebak kata sering terjadi, malah bisa beda 100%
Games itu menunjukkan bahwa sebuah bahasa dengan mudah sekali disalah artikan.
The story...
Tanggal 4 Sept lalu.. mamaku telpon... dia bertanya apakah betul papa mertuaku dan akan segera pulang ke Surabaya?? (beliau sedang dalam perjalanan misi di P Peleng, Luwuk, Banggai, dll pokoknya di Sulawesi)
Wah aku langsung kaget dan segera menelpon Paul apakah berita itu betul?
(Sempat kuatir karena papi memang bulan lalu sempat opname karena jantungnya.)
Paul segera sms papi.... Dan hasilnya tidak ada berita apa apa... (tidak ada signal utk HP)
Berita terakhir.. malam sebelumnya papi sempat SMS, bilang kalau habis kena ujan, trus agak flu.
Tapi berita bahwa papi sakit dan akan segera pulang itu sudah beredar di beberapa orang di gereja... bahkan ada yang tanya apa betul seluruh team akan balik ke Sby?
Paul berusaha sms papi, dan kelihatannya tetap tidak ada signal disana...
Aku dan paul berusaha berpikir positif, bahwa orang-orang itu salah tangkap bahwa beritanya adalah papi agak gak enak badan, titik. Bukan ga enak badan dan harus segera pulang surabaya.
Kemaren akhirnya ada klarifikasi.... Ibu Lanny (Ketua Majelis Jemaat) dan mamaku ngobrol2... Ibu Lanny itu sempat bertelepon dengan papi, dan memang betul papi tidak enak badan. Tapi itu aja beritanya. Bisa sampai ada isu bahwa dia harus pulang ke surabaya, wah gak ada yang tau dari mana sumbernya....
Seperti permainan komunikata tadi.... komunikasi memang sangat rentan untuk menjadi salah..
Jadi harus berhati-hati dalam berkata-kata, bukankah orang juga punya kecenderungan untuk membesar-besarkan masalah...
Kalau diingat2... lucu juga.....
Dari mana orang bisa berasumsi bahwa papi akan pulang ke sby?
"Pak Djoko sakit, kehujanan, trus agak flu"
"O Yah? parah? wah jangan-jangan harus pulang"
"Wah iya ya, kalo sakit gitu sih mending pulang, kan kapan hari jantungnya gak sehat"
"Iya mending pulang aja, dari pada ada masalah di sana"
"Eh tau gak... pak Djoko sakit nih... trus katanya mau pulang"
"Trus team yang lain gimana? pulang juga?"
"wah gak tau juga ya, mungkin saja"
"Wah sayang ya harus pulang, misi nya batal dong?"
"Eh ada kabar nih..... "
hahahahaha...... ini hanya rekaan saja....
bukan untuk menyindir atau menyalahkan siapa siapa...
hanya untuk ingat2, bahwa kita bisa salah dalam menyampaikan pesan bila tidak hati-hati
cara maennya... 1 team 5 orang, orang pertama diperlihatkan sebuah kata, dan orang tersebut harus memperagakan kata2 tersebut ke orang berikutnya, dan orang ke 2 akan meneruskannya, hingga orang terakhir. Orang terakhir ini harus menebak kata apakah itu..
Permainan ini cukup lucu karena salah tebak kata sering terjadi, malah bisa beda 100%
Games itu menunjukkan bahwa sebuah bahasa dengan mudah sekali disalah artikan.
The story...
Tanggal 4 Sept lalu.. mamaku telpon... dia bertanya apakah betul papa mertuaku dan akan segera pulang ke Surabaya?? (beliau sedang dalam perjalanan misi di P Peleng, Luwuk, Banggai, dll pokoknya di Sulawesi)
Wah aku langsung kaget dan segera menelpon Paul apakah berita itu betul?
(Sempat kuatir karena papi memang bulan lalu sempat opname karena jantungnya.)
Paul segera sms papi.... Dan hasilnya tidak ada berita apa apa... (tidak ada signal utk HP)
Berita terakhir.. malam sebelumnya papi sempat SMS, bilang kalau habis kena ujan, trus agak flu.
Tapi berita bahwa papi sakit dan akan segera pulang itu sudah beredar di beberapa orang di gereja... bahkan ada yang tanya apa betul seluruh team akan balik ke Sby?
Paul berusaha sms papi, dan kelihatannya tetap tidak ada signal disana...
Aku dan paul berusaha berpikir positif, bahwa orang-orang itu salah tangkap bahwa beritanya adalah papi agak gak enak badan, titik. Bukan ga enak badan dan harus segera pulang surabaya.
Kemaren akhirnya ada klarifikasi.... Ibu Lanny (Ketua Majelis Jemaat) dan mamaku ngobrol2... Ibu Lanny itu sempat bertelepon dengan papi, dan memang betul papi tidak enak badan. Tapi itu aja beritanya. Bisa sampai ada isu bahwa dia harus pulang ke surabaya, wah gak ada yang tau dari mana sumbernya....
Seperti permainan komunikata tadi.... komunikasi memang sangat rentan untuk menjadi salah..
Jadi harus berhati-hati dalam berkata-kata, bukankah orang juga punya kecenderungan untuk membesar-besarkan masalah...
Kalau diingat2... lucu juga.....
Dari mana orang bisa berasumsi bahwa papi akan pulang ke sby?
"Pak Djoko sakit, kehujanan, trus agak flu"
"O Yah? parah? wah jangan-jangan harus pulang"
"Wah iya ya, kalo sakit gitu sih mending pulang, kan kapan hari jantungnya gak sehat"
"Iya mending pulang aja, dari pada ada masalah di sana"
"Eh tau gak... pak Djoko sakit nih... trus katanya mau pulang"
"Trus team yang lain gimana? pulang juga?"
"wah gak tau juga ya, mungkin saja"
"Wah sayang ya harus pulang, misi nya batal dong?"
"Eh ada kabar nih..... "
hahahahaha...... ini hanya rekaan saja....
bukan untuk menyindir atau menyalahkan siapa siapa...
hanya untuk ingat2, bahwa kita bisa salah dalam menyampaikan pesan bila tidak hati-hati
masak masak...
Hai ini aku sukses memasak... hehehe....
ceritanya, minggu lalu mertuaku pergi ke sulawesi, sejak itu otomatis aku harus menyiapkan makanan sendiri (biasanya nunut... hehehe)
Seminggu ini aku betul2 gak sempat memasak.. atau lebih tepatnya masih belum menyempatkan diri untuk memasak. akhirnya njajan deh..
Untunglah seminggu 2x paul kuliah, jadi dia makan di kampus, dan aku bisa nebeng makan di rumah mamaku... hehehe....
kalau pagi, Paul nggak makan, kalo aku ya makan pisang, havermut, atau cereal, atau beli roti... makan siang kami sama-sama njajan, nah kalo malam .. bingung mau makan apa. Makan diluar itu udah bosen, nek gak gitu ya abis2in duit.
Nah.. mulai malam kemaren sudah dibulatkan tekat untuk mulai memasak, abis udah buosen sama makanan njajan....
Pagi ini aku masak ca taoge dan ayam kecap..
cukup enak... tapi masih ada yang kurang ..
metode masaknya harus diperbaiki.. maklum aku ini masak pake feeling..
trus kalo memasak masakan yang sudah pernah dibuat, aku lupa bumbunya apa, jadi feeling lagi deh...
Ayam kecap : ayamnya kayaknya lebih enak kalau digoreng dulu sebelum dimasak, supaya lebih gurih..
Ca Taoge : Harus cari wajan yang lebih besar.. supaya taogenya gak jatuh2 ke kompor.. hehehe....
oya, seminggu ini aku juga udah 2x bikin kacang hijau.. camilan yang cukup menyegarkan dan sehat.. hehe.. (kecuali gulanya)trus mbikinnya guampang banget.. :)
semoga hari2 besok bisa tetap semangat masak..
cia you... hahahaha....
ceritanya, minggu lalu mertuaku pergi ke sulawesi, sejak itu otomatis aku harus menyiapkan makanan sendiri (biasanya nunut... hehehe)
Seminggu ini aku betul2 gak sempat memasak.. atau lebih tepatnya masih belum menyempatkan diri untuk memasak. akhirnya njajan deh..
Untunglah seminggu 2x paul kuliah, jadi dia makan di kampus, dan aku bisa nebeng makan di rumah mamaku... hehehe....
kalau pagi, Paul nggak makan, kalo aku ya makan pisang, havermut, atau cereal, atau beli roti... makan siang kami sama-sama njajan, nah kalo malam .. bingung mau makan apa. Makan diluar itu udah bosen, nek gak gitu ya abis2in duit.
Nah.. mulai malam kemaren sudah dibulatkan tekat untuk mulai memasak, abis udah buosen sama makanan njajan....
Pagi ini aku masak ca taoge dan ayam kecap..
cukup enak... tapi masih ada yang kurang ..
metode masaknya harus diperbaiki.. maklum aku ini masak pake feeling..
trus kalo memasak masakan yang sudah pernah dibuat, aku lupa bumbunya apa, jadi feeling lagi deh...
Ayam kecap : ayamnya kayaknya lebih enak kalau digoreng dulu sebelum dimasak, supaya lebih gurih..
Ca Taoge : Harus cari wajan yang lebih besar.. supaya taogenya gak jatuh2 ke kompor.. hehehe....
oya, seminggu ini aku juga udah 2x bikin kacang hijau.. camilan yang cukup menyegarkan dan sehat.. hehe.. (kecuali gulanya)trus mbikinnya guampang banget.. :)
semoga hari2 besok bisa tetap semangat masak..
cia you... hahahaha....
Thursday, September 6, 2007
Tuhan yang terutama?
"Bagaimana menjadikan Tuhan menjadi yang terutama dalam hidup kita?"
Pertanyaan ini muncul dari salah seorang anggota Persekutuan Doa di kantor...
Kemudian aku berusaha mencari jawaban yang paling praktis...
bukankah ini memang apa yang Tuhan inginkan dalam hidup tiap-tiap orang percaya?
Jadi jawabannya pun seharusnya cukup simple..
Pada saat persekutuan itu ada beberapa jawaban, tapi belum memuaskan aku..
ada beberapa cerita bahwa orang belajar tentang memprioritaskan Tuhan dari beberapa peristiwa kehilangan. Misal barang yang disayangi diambil paksa / hilang. atau orang yang disayangi meninggalkan kita/meninggal..
Tapi aku merasa seharusnya Tuhan tidak se'kasar' itu. Dia Allah yang pencemburu, iya itu benar karena Dia sendiri yang mengatakannya. Tapi menurutku, sifat cemburunya tidak akan sampai membuat dia cemburu buta dan menyakiti orang yang Dia sayangi.
Jadi kalau kita memutuskan untuk menjadikan Dia menjadi yang terutama, motivasinya bukan karena kita ketakutan bahwa Dia akan mengambil sesuatu dari kita.
Kemudian aku menemukan jawaban (entah ini betul atau tidak)
Bagaimana cara menjadikan Tuhan yang terutama, yaitu.. dengan melibatkan Dia disepanjang kehidupan kita, dalam setiap aspek kehidupan.
Jika bangun pagi, kita bersyukur dan mememikirkan Dia..
Jika dalam bekerja, kita melibatkan Dia..
Jika ada masalah, kita menceritakan pergumulan kita ke Dia..
Jika dalam pacaran/rumah tangga, kita melibatkan Dia..
Jika ada berita sukacita, kita mengucapkan syukur kepada Dia..
Jika kita menyisihkan perpuluhan kita dengan sukacita..
Jika dalam setiap pergumulan hidup kita melibatkan Dia..
Bukankah dengan demikian Dia sudah menjadi yang terutama dihidup kita??
Jadi cara mengeceknya siapa yang jadi tuhan dalam hidupmu.. ya pertanyaannya dibalik aja...
Jika kita bangun pagi, apa yang pertama dalam pikiranmu
Jika dikantor, apa yang memotovasimu bekerja
Jika ada masalah, siapa yang diajak bicara?
Dalam berpacaran/rumah tangga, siapa yang terutama?
Jika ada uang, bagaimana cara mengaturnya?
Apa kekuatanmu dalam menjalani hidup?
yah kira-kira gitu deh...
Pertanyaan ini muncul dari salah seorang anggota Persekutuan Doa di kantor...
Kemudian aku berusaha mencari jawaban yang paling praktis...
bukankah ini memang apa yang Tuhan inginkan dalam hidup tiap-tiap orang percaya?
Jadi jawabannya pun seharusnya cukup simple..
Pada saat persekutuan itu ada beberapa jawaban, tapi belum memuaskan aku..
ada beberapa cerita bahwa orang belajar tentang memprioritaskan Tuhan dari beberapa peristiwa kehilangan. Misal barang yang disayangi diambil paksa / hilang. atau orang yang disayangi meninggalkan kita/meninggal..
Tapi aku merasa seharusnya Tuhan tidak se'kasar' itu. Dia Allah yang pencemburu, iya itu benar karena Dia sendiri yang mengatakannya. Tapi menurutku, sifat cemburunya tidak akan sampai membuat dia cemburu buta dan menyakiti orang yang Dia sayangi.
Jadi kalau kita memutuskan untuk menjadikan Dia menjadi yang terutama, motivasinya bukan karena kita ketakutan bahwa Dia akan mengambil sesuatu dari kita.
Kemudian aku menemukan jawaban (entah ini betul atau tidak)
Bagaimana cara menjadikan Tuhan yang terutama, yaitu.. dengan melibatkan Dia disepanjang kehidupan kita, dalam setiap aspek kehidupan.
Jika bangun pagi, kita bersyukur dan mememikirkan Dia..
Jika dalam bekerja, kita melibatkan Dia..
Jika ada masalah, kita menceritakan pergumulan kita ke Dia..
Jika dalam pacaran/rumah tangga, kita melibatkan Dia..
Jika ada berita sukacita, kita mengucapkan syukur kepada Dia..
Jika kita menyisihkan perpuluhan kita dengan sukacita..
Jika dalam setiap pergumulan hidup kita melibatkan Dia..
Bukankah dengan demikian Dia sudah menjadi yang terutama dihidup kita??
Jadi cara mengeceknya siapa yang jadi tuhan dalam hidupmu.. ya pertanyaannya dibalik aja...
Jika kita bangun pagi, apa yang pertama dalam pikiranmu
Jika dikantor, apa yang memotovasimu bekerja
Jika ada masalah, siapa yang diajak bicara?
Dalam berpacaran/rumah tangga, siapa yang terutama?
Jika ada uang, bagaimana cara mengaturnya?
Apa kekuatanmu dalam menjalani hidup?
yah kira-kira gitu deh...
Subscribe to:
Posts (Atom)