Thursday, February 13, 2014

Working mom or Stay at home mom?



Akhir2 ini aku makin memikirkan 2 hal ini…  Saat ini, beberapa bulan terakhir lebih tepatnya aku mengalami kejenuhan yang luar biasa. Kejenuhan yang bisa membuat kepala sakit saat dikantor dan sembuh seketika ketika tiba dirumah. Burn-out kalau kata salah seorang rekan kerja. 

Tetapi, jika berkaca pada kehidupan mamaku dan adikku yang seorang stay at home mom, aku juga ragu2 akan dapat menikmatinya dg sepenuh hati. Menjalani kehidupan rumah.. berkutat dg anak yang tantrum, menemani bermain, menemani makan, memandikan, mgkn dalam waktu yang pendek akan dapat aku nikmati, tapi jika berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.. oh noo… sepertinya not me banget. 

Suami meminta aku mulai merintis usaha yang dapat menghidupi kami disaat kami pensiun nanti. Tapi dunia entrepreneur kok ya sepertinya bukan duniaku, atau kalau mau jujur, aku takut memasuki dunia itu dengan segala ketidak jelasannya.  Memasarkan (=nyeles) sepertinya bukan sesuatu yang bisa aku nikmati, aku lebih menikmati pekerjaan yang behind the desk, berkutat dengan angka2 dan analisa.

Untuk sementara masalah uang bukan issue yang utama. Tabungan, gaji  dan potensi bonus2 dari perusahaan tempat suami bekerja sepertinya cukup untuk menghidupi kami ber 3, walaupun mungkin adabeberapa kenikmatan yang harus direlakan untuk ditunda atau dihilangkan.  Tapi kondisi masa depan juga belum diketahui, tiffany juga baru akan bersekolah beberapa bulan lagi, apakah banyak pengeluaran2 yang berhubungan dg sekolah atau perkembangan dia, we don’t know. Apakah aku akan hamil lagi dan memiliki anak ke2, we don’t know. Apakah inflasi akan segini2 aja, turun atau naik, we don’t know. 

Atau….. Apakah kejenuhan ini hanya semata2 karena kekosonganku secara spiritual? Karena memang HPDT (Hubungan Pribadi Dg Tuhan) memang sedang tidak harmonis… aku tidak banyak bergaul kembali dg Bapa, jarang berdoa (tetap berdoa makan, dst.. tapi bukan komunikasi yang hangat).  Kelelahan fisik bisa menjadi penyebabnya, kelelahan yang membuat kebutuhan untuk liburan, bersantai sepertinya tidak ada habisnya. Yang diinginkan saat bekerja adalah minggu yang segera berakhir…  dan mata berbinar-binar jika melihat ada tanggalan di kalender berwarna merah.  Apakah sebenarnya sumber masalahnya adalah pada kekosongan di batin ini?

Apakah jika kekosongan ini sdh diisi, aku akan lebih dapat memutuskan yang terbaik bagiku? Yang terbaik menurut Bapa ? Apakah aku dapat lebih clear memandang apakah kedepannya kemana aku ingin harus melangkah?

Memang benar ya menulis bisa mengobati kegilaan stress. Jadi teringat kata2 pak Habibie saat ditinggal mati Ibu Ainun, ditengah depresinya, dokter menyarankan beliau untuk menulis sebagai pengobatannya. Dan akhirnya dia bangkit dan yang tdk disangka buku tersebut dapat dikomersilkan. 

Saat ini rasanya aku lebih plong.. dan akan mencoba untuk mencari cara agar kekosongan tersebut dapat segera terisi, dan menjadi pribadi yang content kembali, dan juga cari jalan mengatasi keleahan fisik ini.